Pernahkah Anda bertanya, mengapa seseorang tetap bertahan pada keyakinannya meski bukti sudah tersaji?
Mengapa diskusi sering berakhir pada perdebatan, bukan pemahaman?
Mungkin jawabannya bukan sekadar kurangnya data, tetapi sesuatu yang lebih dalam—yang bekerja diam-diam dalam diri kita.
Dalam buku Bagaimana Pengetahuan, Kehendak, dan Identitas Membentuk Keyakinan Manusia, Yahya Muhammad mengajak kita menelusuri wilayah ketika akal tidak bekerja sendirian.
Di sana, kehendak ikut menentukan arah penerimaan, sementara identitas, pengalaman hidup, dan kecenderungan batin perlahan membentuk cara kita memahami kebenaran.
Pengetahuan bukan hanya soal bukti, tetapi juga kesiapan jiwa untuk menerimanya.
Melalui refleksi filsafat, telaah epistemologi, dan temuan psikologi kognitif, buku ini membuka mata bahwa bias bukan sekadar gangguan sesekali.
Ia adalah bagian dari struktur keyakinan manusia.
Untuk mencapai objektivitas, dibutuhkan perjuangan serius bukan hanya ketajaman akal, tetapi juga keberanian untuk berjarak dari diri sendiri.
Bayangkan jika Anda mampu mengenali bias pribadi, memahami akar keyakinan Anda, dan berdialog dengan lebih tenang serta terbuka.
Buku ini relevan bagi pria dan wanita usia 27–65 tahun yang ingin meningkatkan kualitas cara berpikir dan memahami mengapa keyakinan begitu sulit digoyahkan.
Ia membantu Anda melihat bahwa pencarian kebenaran bukan sekadar proses intelektual, melainkan juga perjalanan batin yang menuntut kejujuran pada diri sendiri.
Jika Anda ingin memahami bagaimana pengetahuan, kehendak, dan identitas membentuk keyakinan Anda, inilah saatnya membaca buku ini.
Dapatkan sekarang dan mulai perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam, lebih jernih, dan lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan.