Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar politik Indonesia?
Mengapa semakin banyak selebritis maju sebagai calon legislatif?
Apakah ini murni strategi demokrasi, atau sekadar jalan pintas meraih kursi kekuasaan?
Sejak ambang batas parlemen diberlakukan pada Pemilu 2009, partai politik menghadapi ancaman nyata: gagal ke Senayan berarti kehilangan kursi, kehilangan dana bantuan, dan kehilangan pengaruh.
Dalam situasi penuh tekanan itu, selebritis dianggap sebagai magnet suara.
Popularitas dipinjam, panggung dimanfaatkan, dan kontestasi berubah menjadi pertarungan citra.
Buku Caleg Selebritis: Antara Ideologi Partai dan Suara karya Ridho Al-Hamdi mengupas fenomena ini dengan data lengkap dan analisis tajam.
Dengan mencermati ratusan caleg selebritis pada Pileg 2019 dan 2024, buku ini menelusuri apakah mereka sekadar vote getter atau benar-benar memiliki kapasitas sebagai wakil rakyat.
Di tengah maraknya perpindahan partai dan pragmatisme politik, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah ideologi masih menjadi fondasi, atau telah tergeser oleh ambisi elektoral?
Tulisan ini tidak menyerang individu atau kelompok mana pun, melainkan menghadirkan kajian ilmiah yang membantu pembaca memahami dinamika demokrasi secara lebih jernih.
Anda diajak melihat politik bukan sekadar tontonan, tetapi sebagai sistem yang memengaruhi masa depan bangsa.
Jika Anda ingin memahami bagaimana strategi partai bekerja, bagaimana suara diperebutkan, dan bagaimana kualitas representasi diuji, buku ini akan membuka perspektif baru yang selama ini mungkin tersembunyi di balik sorotan kamera.
Saatnya membaca politik dengan lebih kritis dan sadar.
Dapatkan buku ini sekarang dan temukan sendiri jawabannya.