Banjir, kerusakan hutan, pencemaran, perubahan iklim, dan hilangnya keseimbangan alam sering dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan.
Padahal, di balik semua itu terdapat persoalan yang lebih dalam: krisis kesadaran, krisis moral, dan krisis spiritual manusia modern.
Ketika alam hanya diperlakukan sebagai objek yang bisa terus dimanfaatkan, hubungan antara manusia, agama, dan lingkungan perlahan kehilangan maknanya.
Di sinilah agama perlu kembali hadir, bukan hanya sebagai sumber ritual, tetapi juga sebagai kekuatan yang membentuk cara hidup yang lebih bertanggung jawab.
Buku Ekoteologi: Rekonstruksi Relasi Manusia, Agama, dan Alam karya Eogenie Lakilaki mengajak pembaca melihat krisis ekologis dari sudut pandang yang lebih luas dan mendalam.
Buku ini membahas bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat membangun kesadaran baru tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara Tuhan, manusia, dan alam.
Pembaca diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.
Melalui pendekatan akademik yang lahir dari kegelisahan sekaligus panggilan moral, buku ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana agama dapat berperan dalam menjawab persoalan ekologis masa kini.
Buku ini cocok dibaca oleh mahasiswa, akademisi, tokoh agama, pemerhati lingkungan, pendidik, dan siapa saja yang ingin memahami hubungan manusia dan alam secara lebih utuh.
Saatnya melihat alam bukan hanya sebagai tempat hidup, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.
Miliki buku Ekoteologi dan temukan cara pandang baru untuk membangun relasi yang lebih harmonis antara manusia, agama, dan alam.