Kultus individu pada imam al-Ghazali yang bergelar al-Hujjah sebagai seorang ulama yang telah menghafal ratusan ribu hadits juga tidak sepenuhnya benar.
Sebab disamping karena belum ditemukan referensi yang menjelaskan tentang hal ini, gelar tertinggi dalam ilmu hadits adalah al-haidz dan al-Hakim.
Dengan demikian, gelar agung Hujjah al-Islam Kepada imam islam, Karena Imam al-Ghazali menguasai bidang ilmu fiqih, teologi, filsafat dan tawasuf.
Namun, pengakuan Imam al-Ghazali tersebut tidak boleh dipahami secara harfiah, dan bukan berarti beliau tidak memiliki pengetahuan tentang hadits sama sekali.
Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin Imam al-Ghazali mampu mengarang kitab Ihya' dengan mencantumkan 4000 lebih hadits didalamnya.
Padahal beliau dalam mwngutip hadits tersebut ada sebagian tidak merujuk ke kitab-kitab induk hadits, tetapi menggunakan daya ingat memorinya yang kuat dan dengan bahasanya sendiri.
Ini terbukti ketika al-Iraqi melakukan Tkhrij hadits-hadits kitab Ihya', sering ia katakan semisal ''Saya tidak menjumpai riwayat ini dengan teks yang begitu, tetapi dengan teks yang begini..''
Itu menunjukan bahwa Imam al-Ghazali juga memiliki pengetahuan yang luas tentang hadits dan hafal ribuan hadits, meski secara teks dan redaksi hadits berbeda setelah dilakukan pengecekan, tetapi kandungan maknanya sama.
Hal ini karena al-Iraqi merujuk langsung kepada kitab-kitab induk hadits, baik yang shahih maupun dhaif.